Ini ceritaku: Ketika Tuhan memberikan 1, maka Ia akan membantu kita menjadikannya 2, 3, 4 dan seterusnya
Cuma
ingin berbagi bagi kamu yang sedang merasa lemah, putus asa, yang perlu
energi tambahan untuk melanjutkan perjuangan mencapai impianmu, juga
untuk (mudah-mudahan) menyadarkan kamu yang tidak bisa menghargai jerih
lelah orangtua yang sudah membesarkanmu, ataupun bagi kamu yang cengeng
atau sedang lupa menghargai apa yang sudah kamu miliki saat ini.
Ini sepenggal ceritaku.
Di usia belasan tahun, karena bisnis orangtua bangkrut dan sakit- sakitan, aku dan saudara- saudaraku terpaksa mencari tambahan uang sekolah dengan bekerja membelah pinang dan mengupas kertas timah rokok, lalu menjadi pekerja pabrik kerupuk sekian tahun..... Di masa pengangguran setamat kuliah, aku sempat menjadi sales beras merah berkeliling di pasar - pasar di Medan dengan gaji Rp.25.000, dan menjual sendiri bawang merah Simalungun yang akhirnya merugi karena kurang pengalaman mencegah bawang tidak busuk karena hujan.
Di usia 20- an akupun merantau ke Jakarta. Sempat menjadi baby sitter musiman dengan janji gaji Rp. 100.00/hari, tapi setelah dipotong biaya ini itu oleh penyalur cuma bisa membawa pulang Rp. 150.000 selama 3 hari bekerja. Sekian kali melamar sebagai SPG gagal total, berpuluh - puluh lamaran dilayangkan namun tak pernah mendapat panggilan interview. Akhirnya, atas jasa baik seorang teman, Tuhan memberikanku kesempatan hidup lebih baik dan menjadi mandiri sebagai guru privat. Naik turun kereta api, metro mini, hingga ojek demi bertahan hidup dan mengongkosi biaya mencari pekerjaan dan les komputerku di kantor pos ousat lapangan banteng senen. Kecewa dengan jumlah honor mengajar, akupun mengumpulkan keberanian dan kenekatan membuka usaha privati yang berkantor di sebuah rumah kost di kramat sentiong jakarta pusat, dan akhirnya bisa membantu memberikan peluang pekerjaan bagi sebagian teman sarjana penggangguran bertahan hidup di jakarta raya.
Bosan ditanyain tentang pekerjaan formal, selanjutnya Tuhan juga memberikan peluang bekerja sebagai marketing di kontraktor di meruya jakarta barat, dengan gaji awal Rp. 400.000. Setahun kemudian melamar sebagai wartawan dan desain grafis di sebuah LSM, akhirnya malah tercebur dan belajar ke dunia tulis menulis, fotografi dan humas sekitar 6 tahun. Dan kini, di usia 30-an, akhirnya setelah melewati beberapa proses belajar keras, penolakan dan lainnya, Tuhan memberikan peluang lagi, membangun usaha travel.
Kesimpulan: jangan menyerah, jangan menyerah, dan raihlah peluang sekecil apapun itu, karena ketika Tuhan memberikan 1, maka Ia akan membantu kita menjadikannya 2, 3, 4 dan seterusnya.
Hati yang gembira adalah obat, tapi semangat yang patah keringkan tulang. Ini ceritaku, apa ceritamu?
Ini sepenggal ceritaku.
Di usia belasan tahun, karena bisnis orangtua bangkrut dan sakit- sakitan, aku dan saudara- saudaraku terpaksa mencari tambahan uang sekolah dengan bekerja membelah pinang dan mengupas kertas timah rokok, lalu menjadi pekerja pabrik kerupuk sekian tahun..... Di masa pengangguran setamat kuliah, aku sempat menjadi sales beras merah berkeliling di pasar - pasar di Medan dengan gaji Rp.25.000, dan menjual sendiri bawang merah Simalungun yang akhirnya merugi karena kurang pengalaman mencegah bawang tidak busuk karena hujan.
Di usia 20- an akupun merantau ke Jakarta. Sempat menjadi baby sitter musiman dengan janji gaji Rp. 100.00/hari, tapi setelah dipotong biaya ini itu oleh penyalur cuma bisa membawa pulang Rp. 150.000 selama 3 hari bekerja. Sekian kali melamar sebagai SPG gagal total, berpuluh - puluh lamaran dilayangkan namun tak pernah mendapat panggilan interview. Akhirnya, atas jasa baik seorang teman, Tuhan memberikanku kesempatan hidup lebih baik dan menjadi mandiri sebagai guru privat. Naik turun kereta api, metro mini, hingga ojek demi bertahan hidup dan mengongkosi biaya mencari pekerjaan dan les komputerku di kantor pos ousat lapangan banteng senen. Kecewa dengan jumlah honor mengajar, akupun mengumpulkan keberanian dan kenekatan membuka usaha privati yang berkantor di sebuah rumah kost di kramat sentiong jakarta pusat, dan akhirnya bisa membantu memberikan peluang pekerjaan bagi sebagian teman sarjana penggangguran bertahan hidup di jakarta raya.
Bosan ditanyain tentang pekerjaan formal, selanjutnya Tuhan juga memberikan peluang bekerja sebagai marketing di kontraktor di meruya jakarta barat, dengan gaji awal Rp. 400.000. Setahun kemudian melamar sebagai wartawan dan desain grafis di sebuah LSM, akhirnya malah tercebur dan belajar ke dunia tulis menulis, fotografi dan humas sekitar 6 tahun. Dan kini, di usia 30-an, akhirnya setelah melewati beberapa proses belajar keras, penolakan dan lainnya, Tuhan memberikan peluang lagi, membangun usaha travel.
Kesimpulan: jangan menyerah, jangan menyerah, dan raihlah peluang sekecil apapun itu, karena ketika Tuhan memberikan 1, maka Ia akan membantu kita menjadikannya 2, 3, 4 dan seterusnya.
Hati yang gembira adalah obat, tapi semangat yang patah keringkan tulang. Ini ceritaku, apa ceritamu?


Komentar