MANUSIA LAHIR DARI SEBUAH HUBUNGAN
Manusia lahir dari sebuah hubungan. Ya, manusia lahir dari sebuah hubungan. Kesadaran ini tiba-tiba terbersit di pikiranku, terinspirasi begitu saja setelah membaca sebuah artikel di sebuah tabloid Kristen. Ya, semua pasti setuju. Manusia lahir dari sebuah hubungan orangtua biologisnya, penyatuan benih pria dan wanita.
Sebutlah namanya F. M mengenal pribadinya sangat baik saat mereka sama-sama duduk di bangku kuliah. Bahkan mereka pernah tinggal di rumah kost yang sama. Namun hubungan itu terpaksa rusak. Seiring perjalanan waktu, F dan M bekerja di sebuah perusahaan yang sama, dan mereka ternyata menemukan ketidakcocokan dalam banyak hal. Hubungan ini harus segera diperbaiki.
Hakikat manusia terletak pada seberapa hubungannya dengan manusia lain. Ini bukan sesuatu yang berlebihan. Bagi saya pribadi, kekayaan seorang manusia terletak pada seberapa kaya ia dalam hubungannya dengan manusia lain. Sehingga, tidak salah juga bila saya katakan bahwa diatas segalanya, mulailah segala sesuatu dari sebuah hubungan. Entah itu di dalam dunia kerja, keluarga, pertemanan, dan lainnya.
Sering sekali saya menemukan bahwa hal ini terlupakan bahkan terabaikan. Di dalam lingkungan kerja, hubungan antar pribadi sering menjadi masalah. Tidak sulit untuk menciptakan keakraban di dalam acara yang bersifat non formil apalagi dalam kebersamaan/gathering. Namun coba perhatikan bagaimana jadinya bila harus dihadapkan pada situasi kerja yang nyata. Rekan kerja yang dulunya merupakan teman karib bisa berubah menjadi musuh yang sangat menyebalkan tatkala harus berhubungan dalam urusan kerja. Dua orang sahabat bisa ribut besar setelah beberapa waktu menjalankan bisnis bersama, dan sedikit menunjukkan kecerahan masa depan. Dimana kesalahannya?
Sama seperti kesenangan yang ditimbulkan oleh lahirnya sang bayi idaman hati, mari kita rayakan lahirnya sebuah hubungan setiap hari. Karena manusia ditakdirkan untuk berhubungan. (ms180505)
Manusia lahir dari sebuah hubungan. Ya, manusia lahir dari sebuah hubungan. Kesadaran ini tiba-tiba terbersit di pikiranku, terinspirasi begitu saja setelah membaca sebuah artikel di sebuah tabloid Kristen. Ya, semua pasti setuju. Manusia lahir dari sebuah hubungan orangtua biologisnya, penyatuan benih pria dan wanita.
Sebutlah namanya F. M mengenal pribadinya sangat baik saat mereka sama-sama duduk di bangku kuliah. Bahkan mereka pernah tinggal di rumah kost yang sama. Namun hubungan itu terpaksa rusak. Seiring perjalanan waktu, F dan M bekerja di sebuah perusahaan yang sama, dan mereka ternyata menemukan ketidakcocokan dalam banyak hal. Hubungan ini harus segera diperbaiki.
Hakikat manusia terletak pada seberapa hubungannya dengan manusia lain. Ini bukan sesuatu yang berlebihan. Bagi saya pribadi, kekayaan seorang manusia terletak pada seberapa kaya ia dalam hubungannya dengan manusia lain. Sehingga, tidak salah juga bila saya katakan bahwa diatas segalanya, mulailah segala sesuatu dari sebuah hubungan. Entah itu di dalam dunia kerja, keluarga, pertemanan, dan lainnya.
Sering sekali saya menemukan bahwa hal ini terlupakan bahkan terabaikan. Di dalam lingkungan kerja, hubungan antar pribadi sering menjadi masalah. Tidak sulit untuk menciptakan keakraban di dalam acara yang bersifat non formil apalagi dalam kebersamaan/gathering. Namun coba perhatikan bagaimana jadinya bila harus dihadapkan pada situasi kerja yang nyata. Rekan kerja yang dulunya merupakan teman karib bisa berubah menjadi musuh yang sangat menyebalkan tatkala harus berhubungan dalam urusan kerja. Dua orang sahabat bisa ribut besar setelah beberapa waktu menjalankan bisnis bersama, dan sedikit menunjukkan kecerahan masa depan. Dimana kesalahannya?
Sama seperti kesenangan yang ditimbulkan oleh lahirnya sang bayi idaman hati, mari kita rayakan lahirnya sebuah hubungan setiap hari. Karena manusia ditakdirkan untuk berhubungan. (ms180505)


Komentar